Point Highlight
- Kesehatan mental adalah kondisi kesejahteraan yang memungkinkan seseorang menyadari potensi diri, mengatasi tekanan hidup, bekerja produktif, dan berkontribusi bagi lingkungannya, bukan sekadar "tidak sakit jiwa".
- Data Riskesdas menunjukkan prevalensi gangguan mental emosional di Indonesia meningkat dari 6,0% (2013) menjadi 9,8% (2018), dan pada 2023 diperkirakan 20% atau sekitar 54 juta penduduk mengalaminya.
- Kesehatan mental dan fisik saling mempengaruhi secara dua arah -- penyakit kronis meningkatkan risiko gangguan mental hingga 36,6%, begitu pula sebaliknya.
- Hanya sekitar 8% penderita gangguan mental emosional di Indonesia yang mendapatkan penanganan profesional, menunjukkan kesenjangan akses layanan yang masih besar.
Istilah "kesehatan mental" semakin sering muncul di percakapan sehari-hari, mulai dari media sosial hingga ruang kerja. Namun, banyak orang masih keliru mengartikannya sekadar "tidak gila" atau "tidak stres".
Padahal, kesehatan mental mencakup jauh lebih banyak aspek kehidupan dari cara berpikir, mengelola emosi, hingga berinteraksi dengan orang lain.
Memahami definisi, ciri, dan pentingnya kesehatan mental menjadi langkah awal yang penting, baik untuk menjaga kondisi diri sendiri maupun mengenali kapan seseorang di sekitar kita membutuhkan bantuan.
Apa Itu Kesehatan Mental (Mental Health)?
Menurut World Health Organization (WHO), kesehatan mental adalah suatu kondisi kesejahteraan di mana individu menyadari kemampuannya sendiri, mampu mengatasi tekanan hidup yang normal, dapat bekerja secara produktif, dan mampu memberikan kontribusi bagi komunitasnya.
Definisi ini menegaskan bahwa kesehatan mental bukan sekadar "tidak adanya gangguan jiwa", melainkan kondisi kesejahteraan psikologis, emosional, dan sosial yang aktif dan dinamis.
Di Indonesia, definisi serupa dituangkan secara hukum dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa.
Beleid ini mendefinisikan kesehatan jiwa sebagai kondisi di mana seorang individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual, dan sosial, sehingga ia menyadari kemampuan sendiri, dapat mengatasi tekanan, bekerja secara produktif, dan mampu memberikan kontribusi untuk komunitasnya.
Undang-undang ini juga menegaskan bahwa kewenangan menegakkan diagnosis gangguan jiwa berada di tangan dokter spesialis kejiwaan, psikolog, dan dokter umum -- bukan penilaian pribadi atau hasil tes daring semata.
Pusat Kesehatan Mental Masyarakat (CPMH) Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada merangkum empat kriteria utama WHO untuk seseorang dapat dikatakan sehat secara jiwa:
- mengenali potensi diri,
- mampu mengatasi stres sehari-hari,
- produktif dalam beraktivitas, dan
- bermanfaat bagi orang lain.
Keempat kriteria ini saling berkaitan. Seseorang yang mampu mengenali potensinya cenderung lebih percaya diri menghadapi tekanan, yang pada akhirnya mendukung produktivitas dan kontribusi sosialnya.
Apa Saja Ciri-Ciri Jiwa yang Sehat?
Alodokter merangkum sejumlah ciri yang umumnya terlihat pada seseorang dengan kondisi mental yang sehat.
Ciri-ciri ini bisa menjadi gambaran sederhana untuk menilai kondisi diri sendiri, meski bukan pengganti penilaian profesional.
- Mampu mensyukuri hal-hal kecil dan tidak mudah terjebak dalam overthinking.
- Memiliki rasa optimis dan percaya diri meski menghadapi tekanan atau masalah.
- Bisa menikmati hal-hal sederhana dalam keseharian tanpa harus menunggu momen besar.
- Tidak terus-menerus menyalahkan diri sendiri atas hal-hal yang terjadi di luar kendali.
- Mampu merencanakan dan berusaha mencapai tujuan hidup secara realistis.
- Senang membantu orang terdekat sekaligus tetap peduli pada kebutuhan diri sendiri.
- Memiliki batasan (boundaries) yang jelas dalam relasi dengan orang lain.
- Tidak mudah iri terhadap pencapaian orang lain dan fokus pada tujuannya sendiri.
- Menjalani pola hidup sehat, termasuk olahraga rutin dan pola tidur yang teratur.
Penting dicatat, tidak semua ciri di atas harus terpenuhi sepenuhnya untuk dianggap "sehat mental".
Jika hanya sebagian yang terasa sesuai dengan kondisi diri, hal itu bukan berarti seseorang mengalami gangguan, melainkan sinyal bahwa ada area yang bisa terus dikembangkan, misalnya lewat teknik mindfulness, aktif bergerak, atau mengelola emosi dengan lebih baik.
Secara nasional, tren kondisi kesehatan mental masyarakat Indonesia menunjukkan peningkatan dari waktu ke waktu. Berikut rangkuman data terkini yang relevan untuk dipahami:
Tabel 1. Data Prevalensi dan Akses Layanan Kesehatan Mental di Indonesia
Grafik 1. Tren prevalensi gangguan mental emosional dan kesenjangan akses layanan kesehatan mental di Indonesia.
Lonjakan dari 6,0% menjadi 9,8% dalam rentang lima tahun ini mengindikasikan bahwa kesadaran sekaligus beban kesehatan mental di Indonesia terus meningkat.
Yang menjadi perhatian lebih besar adalah kesenjangan akses layanan dari 20% populasi yang mengalami gangguan mental emosional, hanya 8% yang benar-benar mendapat penanganan profesional.
Artinya, sebagian besar masyarakat yang membutuhkan bantuan belum terjangkau oleh pelayanan kesehatan jiwa.
Apa yang Dimaksud dengan Gangguan Psikis?
Laman resmi Ayo Sehat Kemenkes menjelaskan bahwa gangguan jiwa adalah kondisi yang mempengaruhi suasana hati, pola pikir, dan perilaku seseorang.
Gangguan ini dapat bersifat ringan hingga berat, dan mempengaruhi kemampuan seseorang untuk berfungsi dalam kehidupan sehari-hari, baik secara sosial, pekerjaan, maupun pribadi.
Penegakan diagnosis gangguan jiwa harus dilakukan oleh profesional kesehatan jiwa seperti dokter, psikolog, atau psikiater bukan berdasarkan penilaian pribadi.
WHO memperkirakan bahwa satu dari delapan orang di seluruh dunia hidup dengan gangguan mental pada tahun 2019.
Beberapa jenis gangguan mental yang paling umum dialami meliputi gangguan kecemasan, Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD), Autism Spectrum Disorder (ASD), gangguan bipolar, depresi, Post Traumatic Stress Disorder (PTSD), skizofrenia, gangguan makan, serta gangguan perilaku disruptif.
Secara umum, Kemenkes merangkum beberapa gejala yang kerap ditemui pada gangguan psikis, yaitu perubahan suasana hati seperti sedih berkepanjangan atau mudah marah, perubahan perilaku seperti menarik diri dari aktivitas sosial, gangguan berpikir seperti sulit berkonsentrasi atau pikiran negatif berulang.
Masalah fisik seperti gangguan tidur dan kelelahan tanpa sebab jelas, serta kesulitan dalam fungsi sehari-hari seperti menurunnya prestasi kerja. Gejala-gejala ini baru dapat ditegakkan sebagai diagnosis jika disertai hendaya atau kesulitan nyata dalam fungsi sehari-hari, bukan sekadar perasaan sesaat.
Mengapa Kesehatan Mental Sama Pentingnya dengan Kesehatan Fisik?
Kesehatan fisik dan mental memiliki hubungan dua arah yang erat. Mengutip penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal BMC Public Health (2019), menyebutkan bahwa seseorang dengan penyakit kronis memiliki risiko 36,6% lebih besar mengalami gangguan mental.
Penelitian lain pada jurnal yang sama tahun 2022 turut mendukung temuan ini, membuktikan bahwa seseorang yang rutin beraktivitas fisik selama masa pandemi COVID-19 memiliki kondisi mental yang lebih baik.
Beberapa mekanisme yang menjelaskan keterkaitan ini antara lain:
- Stres dapat meningkatkan risiko peradangan di dalam tubuh
- Stres oksidatif meningkatkan risiko penyakit kronis seperti jantung dan diabetes
- Kebiasaan minum alkohol atau merokok saat stres meningkatkan risiko masalah fisik
- Kondisi psikosomatis, yaitu saat seseorang mengeluhkan masalah fisik akibat pikiran atau emosi yang tidak baik.
Sebaliknya, kondisi fisik yang buruk juga membuat seseorang lebih mudah merasa cemas, yang kemudian memperburuk kesehatan mentalnya.
Dengan keterkaitan sekuat ini, menjaga kesehatan mental tidak bisa dianggap sebagai urusan sekunder dibanding kesehatan fisik.
Keduanya saling mempengaruhi dan perlu dijaga secara bersamaan agar seseorang dapat berfungsi optimal dalam kehidupan sehari-hari.
Apa Saja Penyebab Umum Gangguan Kesehatan Mental?
Menurut WHO, penyebab gangguan kesehatan mental umumnya merupakan kombinasi dari beberapa faktor yang saling mempengaruhi, bukan satu faktor tunggal. Berikut ini rangkuman empat kelompok faktor risiko utamanya.
Faktor Genetika
Adanya riwayat anggota keluarga yang mengalami gangguan kesehatan mental, atau kelainan senyawa kimia pada otak, dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami gangguan serupa.
Faktor Ekonomi
Mengalami kerugian secara ekonomi, seperti kehilangan pekerjaan atau sumber penghasilan serta kemiskinan, dapat berujung pada stres dan gangguan kecemasan berlebihan.
Faktor Fisik
Pengalaman kekerasan fisik dan seksual yang tidak mendapat penanganan baik dapat menyebabkan trauma berkepanjangan yang berujung pada gangguan kesehatan mental.
Faktor Sosial
Mengalami diskriminasi atau stigma, serta tinggal di lingkungan yang buruk, dapat membuat seseorang merasa terisolasi dan rentan terhadap depresi.
WHO menegaskan bahwa faktor-faktor ini saling mempengaruhi, sehingga untuk kepentingan penanganan, tidak diperlukan fokus berlebihan pada satu faktor sambil mengabaikan faktor lainnya.
Pada konteks spesifik di Indonesia, faktor budaya seperti stigma negatif dan tabu membicarakan masalah psikologis, faktor lingkungan seperti kepadatan penduduk perkotaan, serta faktor teknologi seperti kecanduan media sosial dan cyberbullying turut berkontribusi terhadap tingginya prevalensi gangguan mental di kalangan generasi muda.
Bagaimana Cara Mengatasi Gangguan Mental Secara Umum?
Penanganan gangguan mental bersifat individual dan disesuaikan dengan jenis serta tingkat keparahan kondisi yang dialami.
WHO dan National Institute of Mental Health (NIMH) merekomendasikan pendekatan holistik yang melibatkan beberapa komponen.
- Pendidikan kesehatan mental, untuk mengurangi stigma dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya kesehatan jiwa.
- Konsultasi dan psikoterapi dengan psikolog atau psikiater, untuk membantu memahami dan mengelola pikiran serta emosi secara tepat.
- Rehabilitasi dan integrasi sosial, khususnya bagi penderita gangguan berat seperti skizofrenia, melalui layanan pemulihan berbasis komunitas.
- Deteksi dini, karena mendeteksi gangguan jiwa sedini mungkin -- sejak fase berisiko -- dapat mencegah kondisi berkembang menjadi gangguan yang lebih berat.
Selain penanganan profesional, sejumlah langkah sederhana juga dapat dilakukan secara mandiri untuk menjaga kesehatan mental sehari-hari, seperti tetap aktif secara fisik, melibatkan diri dalam kelompok sosial, menerapkan teknik relaksasi, menjaga pola makan sehat dan teratur, serta mengenali gejala awal saat kesehatan mental mulai terganggu.
Yang terpenting, WHO menekankan pentingnya layanan kesehatan jiwa primer yang mudah diakses untuk mendukung pencegahan dan intervensi dini sebelum kondisi berkembang menjadi lebih serius.
Jika gejala yang dirasakan sudah berlangsung lebih dari dua minggu, disertai perasaan murung atau cemas berlebihan, kehilangan minat pada aktivitas yang biasa dinikmati, atau bahkan muncul pikiran untuk menyakiti diri sendiri, segera cari pertolongan dari tenaga profesional.
Penundaan dalam mencari bantuan hanya akan memperbesar risiko kondisi berkembang menjadi lebih berat.
Kesimpulan
Kesehatan mental adalah fondasi penting bagi kualitas hidup seseorang bukan sekadar ketiadaan gangguan jiwa, melainkan kondisi kesejahteraan yang memungkinkan seseorang mengenali potensinya, mengatasi tekanan, bekerja produktif, dan berkontribusi bagi lingkungannya.
Data menunjukkan prevalensi gangguan mental emosional di Indonesia terus meningkat, sementara akses terhadap layanan profesional masih jauh tertinggal.
Memahami ciri-ciri jiwa yang sehat, mengenali gejala gangguan psikis sejak dini, serta mengetahui faktor risiko dan cara penanganannya menjadi langkah penting yang bisa dilakukan siapa saja.
Perlu diingat, artikel ini bersifat edukatif dan tidak dimaksudkan sebagai pengganti diagnosis atau konsultasi dengan tenaga profesional.
Jika Anda atau orang terdekat merasakan gejala gangguan kesehatan mental yang mengganggu fungsi sehari-hari, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater guna mendapatkan penanganan yang tepat.
Referensi
- World Health Organization (WHO). Mental health: strengthening our response. who.int/news-room/fact-sheets/detail/mental-health-strengthening-our-response
- Kementerian Kesehatan RI. Gangguan Kesehatan Mental, Semakin Ngetren dan Perlu Diwaspadai. ayosehat.kemkes.go.id/gangguan-kesehatan-mental
- Kementerian Kesehatan RI. Gangguan Jiwa. ayosehat.kemkes.go.id/topik-penyakit/kelainan-mental/gangguan-jiwa
- Rumah Sakit Jiwa Aceh. Pengertian Kesehatan Mental. rsj.acehprov.go.id/berita/kategori/artikel/pengertian-kesehatan-mental
- Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Kenali Definisi Kesehatan Mental dan Cara Menanganinya. uinjkt.ac.id/id/kenali-definisi-kesehatan-mental-dan-cara-menanganinya
- Center for Public Mental Health, Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada. Kesehatan Mental: Akar Kesejahteraan Individu. cpmh.psikologi.ugm.ac.id/2020/07/16/kesehatan-mental-akar-kesejahteraan-individu
- Hello Sehat. Kesehatan Fisik dan Mental, Mana Lebih Penting?. hellosehat.com/mental/kesehatan-fisik-dan-mental
- Alodokter. 10 Ciri-Ciri Mental yang Sehat. alodokter.com/10-ciri-ciri-mental-yang-sehat
- Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP). Kesehatan Mental di Indonesia: Tantangan, Dampak, dan Solusi Mendesak. rspp.co.id/artikel-detail-817-Kesehatan-Mental-di-Indonesia-Tantangan,-Dampak,-dan-Solusi-Mendesak.html
- Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa, Republik Indonesia.
